A. Pengertian Empowerment
Pemberdayaan menurut Suhendra (2006:74-75) adalah suatu kegiatan yang berkesinambungan, dinamis, secara sinergis mendorong keterlibatan semua potensi yang ada secara evolutif dengan keterlibatan semua potensi.
Selanjutnya pemberdayaan menurut Ife (dalam Suhendra, 2006:77) adalah meningkatkan kekuasaan atas mereka yang kurang beruntung (empowerment aims to increase the power of disadvantage).
Sedangkan menurut Widjaja (2003:169) pemberdayaan adalah upaya meningkatkan kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat, sehingga masyarakat dapat mewujudkan jati diri, harkat dan martabatnya secara maksimal untuk bertahan dan mengembangkan diri secara mandiri baik di bidang ekonomi, sosial, agama dan budaya.
B. Pengertian Stress
Siagian(2003:300) mengemukakan bahwa stress merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran, dan kondisi fisik seseorang.
Sedangkan menurut Hasibuan H. Malayu S.P (2003), stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Orang-orang yang mengalami stres menjadi nervous dan merasakan kekuatiran kronis. Mereka sering menjadi marah-marah, agresif, tidak dapat relaks atau memperlihatkan sikap yang tidak mengatasinya.
Sumber Stress
1. Didalam diri seseorang
Terkadang sumber stress itu ada di dalam diri seseorang. Salahsatunya melalui kesakitan. Tingkatan stres yang muncul tergantung pada keadaan rasa sakit dan umur individu (sarafino, 1990).
2. Didalam keluarga
Stress ini dapat bersumber dari interaksi diantara anggota keluarga, seperti : perselisihan dalam masalah keuangan, perasaaan saling acuh tak acuh, tujuan-tujuan yang saling berbeda, dll. misalnya : perbedaan keinginan tentang acara televisi yang akan ditonton, perselisihan antara orang tua dengan anak yang menyetel tape-nya keras-keras, tinggal di suatu lingkungan yang terlalu sesak, kehadiran adik baru. Khusus pada penambahan adik baru ini, dapat menimbulkan perasaan stres terutama pada diri ibu yang selama kehamilan (selain perasaan senang, tentu), dan setelah kelahiran.
3. Didalam komunitas dan lingkungan
Interaksi subyek diluar lingkungan keluarga melengkapi sumber-sumber stress. Contohnya : pengalaman stress anak-anak di sekolah dan di beberapa kejadian kompetitif, seperti olahraga. sedangkan beberapa pengalaman stress orang tua bersumber dari pekerjaannya dan lingkungan yang stressfull sifatnya. Khususnya, 'Occupational stress' telah diteliti secara luas.
C. Pengertian Konflik
menurut Robbins, Konflik adalah suatu proses yang dimulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah memengaruhi secara negatif atau akan segera memengaruhi secara negatif pihak lain.
Menurut Alabaness, Konflik adalah kondisi yang dipersepsikan ada di antara pihak-pihak atau lebih merasakan adanya ketidaksesuaian antara tujuan dan peluang untuk mencampuri usaha pencapaian tujuan pihak lain.
Jenis-Jenis Konflik
1. Konflik Intraindividu. Konflik ini dialami oleh individu dengan dirinya sendiri karena adanya tekanan peran dan ekspektasi di luar berbeda dengan keinginan atau harapannya.
2. Konflik Antarindividu. Konflik yang terjadi antarindividu yang berada dalam suatu kelompok atau antarindividu pada kelompok yang berbeda.
3. Konflik Antarkelompok. Konflik yang bersifat kolektif antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
4. Konflik Organisais. Konflik yang terjadi antara unit organisasi yang bersifat struktural maupun fungsional. Contoh konflik ini : konflik antara bagian pemasaran dengan bagian produksi.
Proses-Proses Konflik
Menurut Smith, Proses terjadinya konflik sebagai berikut :
1. Tahap Antisipasi, yaitu merasakan munculnya gejala perubahan yang mencurigakan.
2. Tahap Menyadari, yaitu perbedaan mulai dieksepsikan dalam bentuk suasana yang tidak mengenakkan.
3. Tahap pembicaraan, yaitu pendapat-pendapat berbeda mulai bermunculan.
4. Tahap Perdebatan Terbuka, yaitu perbedaan pendapat mulai ditunjukkan dengan nyata dan terbuka.
5. Tahap Konflik Terbuka, yaitu masing-masing pihak berusaha memaksakan kehendaknya kepada pihak lain.
D. Kasus Yang Berkaitan dengan Stress
Kasus 1
Terlihat seorang wakil pembicara dan karyawan yang berkumpul di luar pabrik Foxconn di Shenzhen, Provinsi Guangdong Cina selatan pada sebuah dokumen foto yang diambil tanggal 24 Februari 2010. “Perusahaan hanya mementingkan kepentingan bisnisnya dengan memeras tenaga karyawan, sementara upah pekerjanya sendiri masih sangat rendah, ironisnya karyawan tidak berdaya akan kebijakan ini”. Pemogokan di Perusahaan Honda Motor dan serentetan bunuh diri karyawan di Foxconn Technology (produsen raksasa elektronik untuk industri seperti Apple, Dell dan Hewlett-Packard) membuat Pemerintah Cina harus melakukan pertemuan dengan perwakilan Management Perusahaan.
Seorang Insinyur berumur 28 tahun yang bekerja untuk Foxconn (pembuat iPhone, iPads dan gadget elektronik lainnya termasuk Apple Inc) meninggal dunia “kematiannya mendadak” di rumahnya di dekat pabrik Foxconn Shenzhen di provinsi Guangdong China selatan. Penyebab kematian sedang diselidiki dan “kita sedang mengumpulkan informasi-informasi pendukung penyebab kematian insinyur ini termasuk keterkaitannya dengan pekerjaan,” kata salah satu perwakilan management perusahaan.
Surat kabar Ming Pao di Hong Kong, melaporkan bahwa salah satu kerabat dekat Insinyur mengklaim kematian rekan kerjanya itu dikarenakan “stres kerja”, setelah bekerja 34 jam tanpa istirahat. Dampak dari laporan surat kabar yang terbit langsung direspon positif oleh Perusahaan dengan mengumumkan pemberian 30 % bonus pada karyawannya untuk meningkatkan dan membantu terciptanya lingkungan kerja yang lebih baik selain itu kerja lembur karyawan akan dikurangi sehingga bisa lebih banyak waktu untuk beristirahat. Aktivis ketenagakerjaan menuduh perusahaan memiliki gaya manajemen yang kaku, dan karyawannya dipaksakan untuk bekerja terlalu keras, namun Foxconn menyangkal tuduhan ini. Dalam setahun ini di Foxconn Company “Sepuluh pekerjanya telah bunuh diri dan tiga lainnya melakukan percobaan bunuh diri, rata -rata mereka tewas karena terjun dari atas bangunan.
Solusi:
Menurut saya, memaksa karyawan dalam bekerja secara berlebihan sangat tidak baik dampaknya baik untuk kehidupan karyawan itu sendiri ataupun untuk perkembangan perusahaan. Jika dilihat dari permasalahan tersebut, karyawan yang melakukan bunuh diri dikarenakan stress kerja yang begitu menekan dan tidak punya keberanian untuk mengkritik perusahaannya. Karena stress yang begitu berat hal yang dilakukan pun yaitu dengan cara bunuh diri. Sebaiknya, hal ini dijadikan oleh pihak perusahaan untuk memperhatikan karyawannya jauh lebih baik lagi biar bagaimana pun hal perusahaan sangat membutuhkan karyawan yang berkompeten, begitu pula sebaliknya. Berbagai cara dapat dilakukan oleh perusahaan untuk karyawan seperti menaikan gaji karyawan, memberikan kesempatan karyawan untuk cuti, dan mengajak karyawan berlibur bersama.
Kasus 2
Karena Stress, Ibu Gantung Diri
Seorang ibu rumah tangga di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, nekad gatung diri di pintu kamar rumahnya. Wanita ini diduga mengalami tekanan mental yang berat, sehingga nekad mengambil jalan pintas mengakhiri hidupnya.
Tubuh Rusniati, ibu rumah tangga yang tinggal di Komplek Perumahan Mantuyo Permata, Banjarmasin, pertama kali ditemukan pukul 12.00 WIB, oleh salah seorang anaknya tergantung dengan seutas tali di pintu kamar rumahnya.
Rusniati diduga nekad mengambil jalan pintas mengakhiri hidupnya karena mengalami stress dan tekanan batin. Menurut penuturan salah seorang kerabatnya, Rusmiati sempat menulis sepucuk surat yang ditujukan kepada keempat anaknya.
Dalam suratnya, ibu berusia 49 tahun ini, meminta agar keempat anaknya selalu hidup rukun dan damai. Eka Sugianto, salah seorang anak korban mengaku terpukul melihat ibunya harus mengakhiri hidup dengan cara yang sangat tragis. Sedangkan suami Rusmiati pada saat kejadian, tidak berada di rumah dan sedang bekerja disalah satu perusahaan tambang batu bara.
Solusi:
Dari kasus diatas diketahui bahwa seorang Ibu Rumah Tangga bunuh diri dikarena stress dan tekanan batin yang berat. Berdasarkan artikel diatas tidak dijelaskan latar belakang yang pasti yang membuat Ibu itu menjadi stress dan tertekan. Menurut saya, apabila kita mempunyai suatu masalah apapun itu jenis masalahnya kita bisa bercerita kepada orang yang terdekat dengan kita dan yang dapat dipercaya. Dengan bercerita setidaknya sudah mengurangi sedikit beban yang kita rasakan dan beban tersebut tidak menumpuk pada akhirnya, kalaupun memang kita tidak bisa bercerita kepada oranglain, kita bisa bercerita dengan Tuhan karena dalam kondisi apapun Tuhan selalu berada disamping kita. Curahkan semua yang kita rasakan kepada Tuhan melalui doa. Dengan cara seperti itu apapun yang kita rasakan berat, akan terasa ringan pada akhirnya dan Tuhan pasti akan selalu mengabulkan apa yang kita sebut dalam doa kita.
Kasus 3
Ketika saya berumur kurang lebih 4 tahun saya mengalami stress dimana saat itu orang tua saya bercerai dan akhirnya saya berpisah dengan ibu kandung saya, dimana ayah saya tidak mengizinkan ibu kandung saya untuk di asuh nya, peristiwa yang mungkin tidak terlupakan oleh saya ketika ayah saya menampar ibu kandung saya, mereka berantam hebat di hadapan saya, sementara saya hanya bisa menangis terisak-risak. Mereka berantam dengan hebatnya hampir bunuh-bunuhan di depan saya, saya menangis sekencang-kencangnya namun mereka tidak mendegarkan tangisan saya, kejadian seperti ini tidak hanya terjadi 1 atau 2 kali saja, akan tetapi berulang kali, hal seperti inilah yang membuat saya menjadi stress dimana saya takut untuk melihat orang-orang disekitar saya, bahkan melihat ayah saya saja saya menjerit “ Ampun Ampun” sambil berlari menuju kamar dan menjerit histeris sendirian. Ketika itu saya tidak mau berbicara pada siapapun saya hanya bisa memanggil “ibu ibu”, namun akhirnya stress saya tidak berlanjutan sampai sekarang karena ayah saya membawa saya ke terapi, untuk dilihat perkembangan saya. Dan alhamdulillah sampai sekarang saya tidak takut lagi melihat orang tetapi masih adalah segan dikit sama orang.
Solusi:
Pada kasus diatas, sang anak menjadi stress dikarena melihat secara langsung kedua orangtuanya bertengkar dengan hebat didepan anaknya sehingga si anak menjadi takut dan stress. Pada dasarkan ketika kedua orangtua bercerai dan memiliki hubungan komunikasi yang kurang baik antara keduanya, si anak lah yang menjadi korban atas tindakan kedua orangtuanya tersebut. Hal yang sebaiknya dilakukan para orangtua adalah jangan pernah sekalipun bertengkar didepan anak-anak. Carilah tempat lain untuk membicarakan permasalahan tersebut. Jika hal tersebut sudah terjadi dan si anak sudah terlihat trauma segeralah bawa anak anda ke Psikolog atau Psikiater agar dapat ditangani secara tepat dan cepat.
II. Komunikasi dalam Manajemen
A. Pengertian Komunikasi
Menurut Everett M Rogers, Pengertian Komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada akhirnya akan menimbulkan saling pengertian yang mendalam.
Menurut Shanon dan Weaver, Pengertian Komunikasi ialah bentuk interaksi manusia yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, baik itu dengan sengaja ataupun yang tidak disengaja. Komuniasi ini tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, namun juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, teknologi dan seni.
Steven mengatakan bahwa komunikasi terjadi kapan saja suatu organisme memberi reaksi terhadap suatu stimuli atau objeknya. Apakah itu berasal dari lingkungan sekitar maupun dari seseorang. Contoh : seorang berlindung pada suatu tempat karena diserang badai; kedipan mata yang terjadi sebagai reaksi terhadap sinar dari lampu, juga adalah peristiwa komunikasi
B. Proses Komunikasi
1. Proses Komunikasi secara Primer
Pengertian proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (simbol) sebagai media. Lambang yang dipergunakan sebagai media primer dalam proses komunikasi ialah bahasa, gambar, isyarat, warna dan lain sebagainya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran dan perasaan komunikator kepada komunikan.
Bahasa merupakan yang paling banyak digunakan untuk menerjemahkan pikiran seseoarang kepada orang lain. Kial, isyarat, gambar, warna dan lain sebagainya, hanya dapat mengomunikasikan hal-hal tertentu saja (sangat terbatas).
Pikiran atau perasaan seseorang baru akan diketahui oleh orang lain dan ada dampaknya kepada orang lain apabila ditransmisikan dengan menggunakan media primer, yaitu lambang lambang. Pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan terdiri atas isi (the content) dan lambang ( symbol).
2. Proses Komunikasi secara Sekunder
Pengertian Proses Komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relatif juga atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, majalah, surat kabar, radio, televisi dan banyak lagi adalah media kedua yang sering dipergunakan dalam komunikasi.
C. Hambatan Komunikasi
Menurut Leonard R.S. dan George Strauss dalam Stoner James, A.F dan Charles Wankel sebagaimana yang telah dikutip oleh Herujito (2001), ada beberapa hambatan terhadap komunikasi yang efektif, yaitu:
1. Mendengar
Biasanya kita mendengar apa yang ingin kita dengar. Banyak hal atau informasi yang ada disekeliling kita, namun tidak semua yang kita dengar dan tanggapi. Informasi yang menarik bagi kita, itulah yang ingin kita dengar.
2. Mengabaikan Informasi yang Bertentangan dengan Apa yang Kita Ketahui
3. Menilai Sumber
Kita cenderung menilai siapa yang memberikan informasi. Jika ada anak kecil yang memberikan informasi tentang suatu hal, kita cenderung mengabaikannya.
4. Persepsi yang Berbeda
Komunikasi tidak akan berjalan efektif jika persepsi si pengirim pesan tidak sama dengan si penerima pesan. Dapat menimbulkan pertengkaran.
5. Kata yang Berarti Lain Bagi Orang yang Berbeda
Kita sering mendengar kata yang artinya tidak sesuai dengan pemahaman kita.
6. Sinyal Non Verbal yang Tidak Konsisten
Gerak gerik kita ketika berkomunikasi- tidak melihat kepada lawan bicara, tetap dengan aktivitas kita pada saat ada yang berkomunikasi dengan kita.
7. Pengaruh Emosi
Pada keadaan marah, seseorang akan kesulitan untuk menerima informasi.
8. Gangguan
Gangguan ini bisa berupa suara yang bising pada saat kita berkomunikasi, jarak yang jauh, dan lain sebagainya.
D. Pengertian Komunikasi Interpersonal Efektif dalam Organisasi
Komunikasi Interpersonal adalah Proses pertukaran Informasi diantara seseorang dengan paling kurang seorang lainnya atau biasanya diantara dua orang yang dapat langsung diketahui balikannya. (Muhammad, 2005,.158-159).
Menurut Devito (1989), komunikasi interpersonal adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Effendy,2003, p. 30).
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya (Mulyana, 2000, p. 73)
E. Model Pengolahan Informasi dalam Komunikasi
Model Pengolahan Informasi pada dasarnya menitikberatkan dorongan-dorongan internal (datang dari dalam diri) manusia untuk memahami dunia dengan cara menggali dan mengorganisasikan data, merasakan adanya masalah dan mengupayakan jalan pemecahannya, serta mengembangkan bahasa untuk mengungkapkannya Model pengolahan informasi dibawah ini ada 4 yaitu:
1. Rational
Proses informasi adalah proses menerima, menyimpan dan mengungkap kembali informasi. Dalam proses pembelajaran, proses menerima informasi terjadi pada saat siswa menerima pelajaran. Proses menyimpan informasi terjadi pada saat siswa harus menghafal, memahami, dan mencerna pelajaran. Sedangkan proses mengungkap kembali informasi terjadi pada saat siswa menempuh ujian atau pada saat siswa harus menerapkan pengetahuan yang telah dimilikinya untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu perlu dikemukakan bahwa informasi masuk ke dalam kesadaran manusia melalui pancaindera, yaitu indera pendengaran, penglihaan, penciuman, perabaan, dan pengecapan. Informasi masuk ke kesadaran manusia paling banyak melalui indera pendengaran dan penglihatan. Berdasarkan alas an tersebut , maka media yang banyak digunakan adalah media audio, media visual, dan media audiovisual (gabungan media audio dan visual).
2. Limited Capacity
3. Expert
4. Cybernetic
F. Model Interaktif Manajer dalam Komunikasi
1. Confidence Dalam manajemen timbulnya suatu interaksi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
2. Immediacy Ini adalah model organisasi yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan
3. Interaction management Adanya berbagai interaksi dalam manajemen seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan.
4. Expressiveness Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
5. Other-orientation Dalam hal ini suatu manajemen organisasi berorientasi pada pegawai.
Daftar Pustaka
http://www.materibelajar.id/2015/12/inilah-beberapa-definisi-pemberdayaan.html
http://www.landasanteori.com/2015/07/pengertian-stres-jenis-proses-dan.html
Smet Bart. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta. PT. Grasindo Anggota IKAPI
Sopiah, 2008. Perilaku Organisasional. Penerbit CV ANDI OFFSET : Yogyakarta.
http://www.physorg.com/
Santrock, J.W.2010. Psikologi Pendidikan Edisi Kedua. Jakarta:Kencana
Onong Uchjana Effendy, 2005. Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek. Penerbit PT Remaja Rosdakarya : Bandung.
Hafied Cangara, 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Penerbit Raja Grafindo Persada : Jakarta.
Herujito, Yayat M.2001. Dasar-dasar Manajemen. Jakarta: Grasindo.
Abizar, 1988, Komunikasi Organisasi, Dirjendikti Debdikbud, Jakarta.
Handoko, T. Hani. 1999. Manajemen. BPFE – Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar