A.
Definisi
Konseptual Kreativitas
Kreativitas pada dasarnya ingin
mencari tahu apa yang dibutuhkan anak di masa mendatang dan apa yang harus kita
berikan kepada anak, serta bagaimana cara memberikannya.
B.
Definisi
Oprerasional Kreativitas
Kreativitas
adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi produk/gagasan apa saja
yang ada pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Dapat
berupa kegiatan imajinatif/sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya
perangkuman. (Tim Pustaka Familia,2006)
Kreativitas
adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya:
·
Baru (Novel) :
Inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan.
·
Berguna (Useful) :
Lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan
masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih
baik/banyak. (David Campbell, 1986)
Jadi, definisi dari oprerasional
kreativitas adalah Kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi
produk/gagasan apa saja yang ada pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak
dikenal pembuatnya. Dapat berupa kegiatan imajinatif/sintesis pemikiran yang
hasilnya bukan hanya perangkuman serta mendatangkan hasil yang sifatnya baru
dan berguna.
C.
Definisi
Kreatifitas Menurut Clark
Kebudayaan yang terekspresikan
dalam suatu bentuk penemuan yang secara signifikan bermaakna bagi masa depan
kemanusiaan, yang terutama hanya dapat di prakasai oleh mereka yang berbakat.
Keberbakatan itu merupakan potensi bagi pengembangan kreativitas.
D.
Teori-Teori
Kreativitas
1)
Teori
Psikoanalisa
Pribadi kreatif dipandang sebagai
seseorang yang pernah mengalami traumatis, yang dihadapi dengan memunculkan
gagasan-gagasan yang didasari dan tidak didasari bercampur menjadi pemecahan
inovatif dari trauma.
a) Freud
Proses kreatif timbul dari
mekanisme pertahanan. Freud percaya bahwa meskipun kebanyakan mekanisme
pertahanan menghambat tindakan kreatif, mekanisme sublimasi justru merupakan
penyebab utama timbulnya karya-karya.
b) Ernest Krist
Mekanisme pertahanan regresi
sering memunculkan tindakan kreatif. Orang yang kreatif ini adalah mereka yang
paling mampu “memanggil” bahan dari alam pikiran tidak sadar. Seseorang yang
kreatif tidak mengalami hambatan untuk bisa “seperti anak” dalam pemikirannya.
Mereka dapat mempertahankan “sikap bermain” mengenai masalah-masalah serius
dalam kehidupan.
c) Carl Jung
Bahwa alam tidak sadar yang dalam
hal ini ketidaksadaran kolektif memainkan peranan yang amat penting dalam
permunculan kreativitas tingkat tinggi.
2)
Teori Humanistik
Teori Humanistik melihat
kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi.
a) Abraham Maslow
Bahwa manusia mempunyai
naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan dibagi
menjadi kebutuhan fisik/biologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan cinta dan rasa
dimiliki, kebutuhan penghargaan dan harga diri, kebutuhan perwujudan diri, dan
kebutuhan estetika. Kebutuhan tersebut memiliki urutan hierarki. Empat
kebutuhan utama disebut kebutuhan “deficiency”
dan dua kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan ”being” .
b) Carl Rogers
Dalam teori ini menyatakan 3
kondisi internal pribadi yang kreatif, yaitu :
·
Keretbukaan terhadap pengalaman
·
Kemampuan untuk menilai situasi sesuai patokan
pribadi seseorang
·
Kemampuan untuk bereksperimen, untuk “bermain” dengan
konsep-konsep.
Apabila seseorang memiliki ketiga
cirri ini maka kesehatan psikologisnya sangat baik, orang tersebut dapat
berfungsi sepenuhnya dan menghasilkan karya-karya kreatif dan hidup secara
kreatif apabila kondisi lingkungannya mendukung.
3)
Teori Csikszentmihalyi
3.1
Ciri pertama memudahkan tumbuhnya kreativitas
adalah predisposisi genetis
3.2
Minat pada usia dini pada ranah tertentu
3.3
Akses terhadap suatu bidang
3.4
Access to a field
3.5
Dapat beradaptasi dengan baik
Daftar Pustaka
Basuki, Heru. (2005). Kreativitas,
Keberbakatan, Intelektual dan Faktor-Faktor Pendukung Dalaam Pengembangannya.
Jakarta: Universitas Gunadarma
Campbell, David. (1986).
Mengembangkan Kreativitas. Yogyakarta: Kansius
Pustaka Familia, Tim. (2006).
Warna-warni Kecerdasan Anak dan Pengembangannya. Yogyakarta: Kansius
Semiawan, Cony. (1997).
Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: Grasindo
Wahyudin. (2007). Anak Kreatif.
Jakarta: Gema Insani Press
Bank
Sampah di Indonesia: Menabung, Mengubah Perilaku
Bicara
soal sampah: kecenderungannya adalah kita tidak terlalu memikirkan apakah
sampah yang kita hasilkan itu organik atau non-organik. Kita mungkin juga tidak
terlalu peduli ke mana larinya sampah itu. Sementara kenyataannya: di
Indonesia, sampah rumah tangga kita akan bercampur dengan sampah jutaan
rumahtangga lainnya, hingga terbentuklah gunung-gunung sampah yang tak
semestinya di tempat pembuangan akhir (TPA) berbagai kota.
Bicara
soal pengelolaan sampah yang ideal, para pakar akan mengatakan bahwa tanggungjawabnya
bukanlah milik pemerintah kota semata, tetapi milik bersama.
Jumlah penduduk terus meningkat, begitu pula pola konsumsi. Volume sampah pun kian meluap di berbagai TPA.
Jumlah penduduk terus meningkat, begitu pula pola konsumsi. Volume sampah pun kian meluap di berbagai TPA.
Lantas
apa yang bisa dilakukan? Saat ini di Indonesia, Bank Dunia tengah mengkaji
berbagai cara untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Salah satu
pilihannya adalah memperbanyak jumlah bank sampah. Belum lama ini saya
bersama tim proyek pengelolaan sampah Bank Dunia mengunjungi bank sampah
di beberapa kota untuk belajar lebih banyak tentang cara kerjanya.
Apa
yang dimaksud dengan ‘bank sampah’? Bank sampah sudah ada di berbagai kelurahan
di seluruh tanah air, antara lain di Sulawesi Utara, Kalimantan Timur dan
Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sinilah sampah rumahtangga dipilah ke dua
kelompok: sampah organik dan sampah non-organik. Sampah organik diolah menjadi
kompos, sementara sampah non-organik kemudian dipilah lebih lanjut ke tiga
sub-kelompok: plastik, kertas, serta botol dan logam.
Sebagian
besar rumahtangga ramah lingkungan di Indonesia menyimpan tiga tong sampah atau
kantong sampah besar. Begitu ketiga tong sampah tersebut sudah penuh, isinya
lalu bisa “ditabung” di sebuah bank sampah. Seperti halnya sebuah bank
komersil, kita bisa membuka rekening di sebuah bank sampah. Secara berkala,
kita bisa mengisi tabungan kita dengan sampah non-organik yang ditimbang dan
diberi nilai moneter, sesuai harga yang sudah ditentukan oleh para pengepul.
Nilai moneter ini ditabung, dan sama halnya sebuah bank komersil, isi tabungan tersebut
bisa ditarik sewaktu-waktu. Di manapun tempatnya, prinsip-prinsip dasar bank
sampah tetap sama: untuk menyimpan sampah, untuk menabung, untuk menghasilkan
uang, untuk mengubah perilaku dan menjaga kebersihan.
Prinsip-prinsip
kebersihan dan pengelolaan sampah ramah lingkungan diterapkan sejak dini di
sebuah sekolah menengah atas di Manado, Sulawesi Utara. Para siswa SMA 7 mulai
menerapkan pola hidup ramah lingkungan di lingkungan sekolahnya sejak tahun
2007, dengan membuat kompos dari sampah organik dari kantinnya. Beberapa tahun
kemudian, sebuah bank sampah resmi didirikan di SMA 7 dan para siswa mulai
menyadari untungnya menyimpan botol dan bungkus makanan plastik. Hasil tabungan
mereka di bank sampah diakui sejumlah siswa cukup membantu untuk membayar
kebutuhan-kebutuhan sekolah. Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia
pun memberi penghargaan khusus bagi SMA 7 karena dianggap sangat berprestasi
dalam menerapkan jiwa ramah lingkungan di kalangan siswanya.
Di
kota Balikpapan, seorang mantan anggota DPRD mendirikan sebuah bank
sampah yang lebih konvensional. “’Sampah adalah teman kita. Sampah adalah uang.
Itu yang selalu saya tekankan pada warga,” ujar Sobirin, pendiri bank sampah di
kelurahan Gunung Samarinda. Sejak pertama berdiri tahun 2010 lalu, sampah
non-organik yang terkumpul di bank sampah Sobirin bisa mencapai 2-3 ton per
bulan.
“Di
bank sampah ini, tiap rumahtangga rata-rata menabung sekitar 50 ribu rupiah per
bulan. Lama kelamaan, jumlah yang terkumpul lumayan membantu buat membaya keperluan
rumah tangga dan sekolah,” tambah Sobirin.
Tentunya
bank sampah Sobirin takkan sukses tanpa partisipasi sejumlah relawan. Selain
ketiga relawan yang menangani operasional harian bank sampah, Sobirin juga
didukung relawan di 29 titik pengumpulan sampah. Salah satunya, Ibu Mimin,
bahkan membuat teroboson sendiri: sampah non-organik yang dikumpulkan di
rumahnya bisa ditukar dengan sembako yang tesedia di warung miliknya.
“Tiap
minggu saya selalu mengingatkan ibu-ibu lain saat pertemuan PKK bahwa
merea bisa menukar sampah menjadi sembako, sesuai dengan berat sampah
non-organik yang mereka setor,” kata Ibu Mimin.
Sementara
di Sukunan – sebuah desa kecil di kabupaten Sleman, DIY – Iswanto, seorang
pakar pengelolaan sampah memperkenalkan konsep ‘bank sampah shodaqoh’, dimana
warga bersedekah kepada komunitasnya dengan penghasilan yang diperoleh dari
penjualan sampah non-organik. Sekitar 230 dari 300 rumah tangga di Desa Sukunan
ikut terlibat dalam program shodaqoh sampah ini, dan mengumpulkan sekitar 2 ton
sampah non-organik per bulan. Hasil penjualan sampah yang terkumpul kemudian
digunakan untuk keperluan komunitas – seperti taman bermain contohnya – yang
ditentukan langsung oleh warga setempat.
Telusuri
Desa Sukunan dan kita takkan melihat sampah berserakan di jalan atau mencium
aroma sampah terbakar. Menurut Iswanto, ”Warga disini sudah terlalu malu untuk
bakar sampah di pekarangan rumah – tetangga-tetangga mereka sendiri yang bakal
menegur.”
Bank
sampah juga bisa ditemukan di berbagai negara lain selain Indonesia. Kami di
Indonesia sangat tertarik untuk belajar tentang pengalaman mengelola bank
sampah di negara-negara lain.
Tanggapan:
Sudah
tidak aneh lagi jika sampah selalu menjadi suatu hal yang sangat mengganggu
baik itu di kota besar maupun di daerah terpencil. Tidak hanya baunya yang
kurang sedap, dampak bagi pencemaran lingkungan pun sangat tinggi. Namun,
dengan adanya program Bank Sampah ini dapat menjadi terobosan besar dalam
pengelolaan sampah di Indonesia.
Efektifitasnya dalam pengelolaan sampah sangat tinggi karena program ini dapat
dilaksanan oleh seluruh lapisan masyrakat mulai dari anak SD sampai ibu rumah
tangga. Cara pelaksanaanya pun mudah, masyarakat hanya perlu menyimpan dan
mengumpulkan sampah organik dan nonorganik sesuai tempatnya, lalu kemudian “ditabung”
ke Bank Sampah yang ada di daerahnya. Hal ini tentu akan melatih anak-anak
untuk lebih peduli terhadap lingkungan, membiasakan mereka membuang sampah pada
tempatnya sambil belajar mengetahui mana sampah organik dan nonorganik .
Sedangkan bagi orang tua hal ini dapat menjadi wadah untuk melatih krativitas
karena mereka sendiri lah yang mengolah / mendaur ulang sampah yang ada menjadi
sesuatu yang mempunyai nilai. Melalui program ini, paradigma masyarakat
terhadap sampah yang tidak berguna dan hanya dibuang begitu saja diubah menjadi
sesuatu hal yang mempunyai nilai dan berharga. Sampah yang dikumpulkan (Organik
atau Nonorganik) di daur ulang menjadi barang yang bernilai ekonomis. Lebih
dari itu, program Bank Sampah ini juga sedikit banyak tentu akan membantu
meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar karena masyarakat tidak hanya
berperan sebgai nasabah, tetapi juga produsen bagi sampah yang diolahnya.
Selain itu prinspip-prinsip dasarnya sama dengan bank komersil pada umumnya,
isi tabungan yang sudah diuangkan dapat ditarik sewaktu-waktu. Sungguh kreativitas
positif dari Program Bank Sampah ini patut dicontoh oleh semua warga di
Indonesia atau bahkan dijadikan program tersendiri oleh Pemerintah agar
persoalan sampah yang sangat pelik di Negara ini dapat teratasi.
Kesimpulan:
Program
Bank sampah jelas terlihat sangat efektif dalam pengelolaan sampah di
Indonesia. Selain pelaksanaannya yang mudah program ini pun dapat dilakukan
oleh seluruh lapisan masyarkat. Banyak sekali keuntungan dari adanya program
ini diantaranya adalah membiasakan masyarakat untk turut menjaga lingkungan,
dapat mejadi wadah dalam melatih kreativitas mengolah barang, serta dapat
menigkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu program Bank
Sampah ini patut untuk dicontih oleh daerah-daerah lain di Indonesia.
2. Jelaskan
menurut anda dan kelompok anda “Anak laki-laki menunjukan kreativitas yang
lebih besar daripada anak perempuan, terutama setelah berlalunya masa
kanak-kanak”
Benarkah
demikian? Mengapa?
Hurlock (1993), mengatakan ada
enam faktor yang menyebabkan munculnya variasi kreativitas yang dimiliki
individu, yaitu:
1. Jenis kelamin
Anak laki-laki menunjukkan
kreativitas yang lebih besar dari anak perempuan, terutama setelah berlalunya
masa kanak-kanak. Untuk sebagian besar hal ini disebabkan oleh perbedaan
perlakuan terhadap anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki diberi
kesempatan untuk mandiri, didesak oleh teman sebaya untuk lebih mengambil
resiko dan didorong oleh para orangtua dan guru untuk lebih menunjukkan
inisiatif dan orisinalitas.
2. Status sosioekonomi
Anak dari kelompok sosioekonomi
yang lebih tinggi cenderung lebih kreatif dari anak kelompok yang lebih rendah.
Lingkungan anak kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi memberi lebih banyak
kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan bagi
kreativitas.
3. Urutan kelahiran
Anak dari berbgai urutan
kelahiran menunjukkan tingkat kreativitas yang berbeda. Perbedaan ini lebih
menekankan pada lingkungan daripada bawaan. Anak yang lahir ditengah, belakang
dan anak tunggal mungkin memiliki kreativitas yang tinggi dari pada anak
pertama. Umumnya anak yang lahir pertama lebih ditekan untuk menyesuaikan diri
dengan harapan orangtua, tekanan ini lebih mendorong anak untuk menjadi anak
yang penurut daripada pencipta.
Anak dari keluarga kecil
bilamana kondisi lain sama cenderung lebih kreatif daripada anak dari keluarga
besar. Dalam keluarga besar cara mendidik anak yang otoriter dan kondisi
sosiekonomi kurang menguntungkan mungkin lebih mempengaruhi dan menghalangi
perkembangan kreativitas.
5. Lingkungan
Anak dari lingkungan kota
cenderung lebih kreatif dari anak lingkungan pedesaan.
6. Intelegensi
Setiap anak yang lebih pandai
menunjukkan kreativitas yang lebih besar daripada anak yang kurang pandai.
Mereka mempunyai lebih banyak gagasan baru untuk menangani suasana sosial dan
mampu merumuskan lebih banyak penyelesaian bagi konflik tersebut.
Faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kreativitas menurut Rogers (dalam Munandar, 1999) adalah:
a. Faktor internal individu
Faktor internal, yaitu faktor
yang berasal dari dalam individu yang dapat mempengaruhi kreativitas,
diantaranya :
1. Keterbukaan terhadap pengalaman
dan rangsangan dari luar atau dalam individu. Keterbukaan terhadap pengalaman
adalah kemampuan menerima segala sumber informasi dari pengalaman hidupnya
sendiri dengan menerima apa adanya, tanpa ada usaha defense, tanpa
kekakuan terhadap pengalaman-pengalaman tersebut. Dengan demikian individu
kreatif adalah individu yang mampu menerima perbedaan
2. Evaluasi internal, yaitu
kemampuan individu dalam menilai produk yang dihasilkan ciptaan seseorang
ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan karena kritik dan pujian dari orang
lain. Walaupun demikian individu tidak tertutup dari kemungkinan masukan dan
kritikan dari
orang lain.
3. Kemampuan untuk bermaian dan
mengadakan eksplorasi terhadap unsur-unsur, bentuk-bentuk, konsep atau
membentuk kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
b. Faktor eksternal (Lingkungan)
Faktor eksternal (lingkungan)
yang dapat mempengaruhi kreativitas individu adalah lingkungan kebudayaan yang
mengandung keamanan dan kebebasan psikologis. Peran kondisi lingkungan mencakup
lingkungan dalam arti kata luas yaitu masyarakat dan kebudayaan. Kebudayaan
dapat mengembangkan kreativitas jika kebudayaan itu memberi kesempatan adil
bagi pengembangan kreativitas potensial yang dimiliki anggota masyarakat.
Adanya kebudayaan creativogenic, yaitu kebudayaan yang memupuk dan
mengembangkan kreativitas dalam masyarakat, antara lain :
(1) tersedianya sarana
kebudayaan, misal ada peralatan, bahan dan media, (2) adanya keterbukaan
terhadap rangsangan kebudayaan bagi semua lapisan masyarakat, (3) menekankan
pada becoming dan tidak hanya being, artinya tidak menekankan
pada kepentingan untuk masa sekarang melainkan berorientasi pada masa
mendatang, (4) memberi kebebasan terhadap semua warga negara tanpa
diskriminasi, terutama jenis kelamin, (5) adanya kebebasan setelah pengalamn
tekanan dan tindakan keras, artinya setelah kemerdekaan diperoleh dan kebebasan
dapat dinikmati, (6) keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan yang berbeda,
(7) adanya toleransi terhadap pandangan yang berbeda, (8)adanya interaksi
antara individu yang berhasil, dan (9) adanya insentif dan penghargaan bagi
hasil karya kreatif. Sedangkan lingkungan dalam arti sempit yaitu keluarga dan
lembaga pendidikan. Di dalam lingkungan keluarga orang tua adalah pemegang
otoritas, sehingga peranannya sangat menentukan pembentukan krativitas anak.
Lingkungan pendidikan cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir anak
didik untuk menghasilkan produk kreativitas, yaitu berasal dari pendidik.
jadi
menurut kami anak laki-laki lebih menunjukan kreatifitasnya karena beberapa
faktor, yang pertama yaitu faktor internal. Anak laki-laki lebih merasakan
adanya tanggung jawab serta keinginan mandiri dalam dirinya, maka dari itu
timbul keterbukaan dari dirinya sehingga memicu berkembangnya kreatifitas dalam
dirinya. Faktor yang kedua yaitu faktor eksternal. Faktor eksternal ini berasal
dari lingkungan dari anak anak laki-laki tersebut. Adanya desakan dari teman
sebaya serta adanya anggapan bahwa anak laki laki haruslah memiliki sifat
inisiatif maka hal itu memicu tumbuhnya kreatifitas anak laki laki lebih
dibanding dengan anak perempuan.
Daftar Pustaka
Hurlock, E. (1993). Psikologi Perkembangan (Suatu
Pendekatan Sepanjang
Rentang
Kehidupan). Jakarta :
Erlangga
Munandar, Utami. (1999). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak
Sekolah.
Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar