Kamis, 19 Maret 2015

softskill-kreativitas

A.      Definisi Konseptual Kreativitas
Kreativitas pada dasarnya ingin mencari tahu apa yang dibutuhkan anak di masa mendatang dan apa yang harus kita berikan kepada anak, serta bagaimana cara memberikannya.

B.      Definisi Oprerasional Kreativitas
Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi produk/gagasan apa saja yang ada pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Dapat berupa kegiatan imajinatif/sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. (Tim Pustaka Familia,2006)
Kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya:
·         Baru (Novel)                      : Inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh, mengejutkan.
·         Berguna (Useful)             : Lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong,             mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/banyak. (David Campbell, 1986)
Jadi, definisi dari oprerasional kreativitas adalah Kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi produk/gagasan apa saja yang ada pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Dapat berupa kegiatan imajinatif/sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman serta mendatangkan hasil yang sifatnya baru dan berguna.

C.      Definisi Kreatifitas Menurut Clark
Kebudayaan yang terekspresikan dalam suatu bentuk penemuan yang secara signifikan bermaakna bagi masa depan kemanusiaan, yang terutama hanya dapat di prakasai oleh mereka yang berbakat. Keberbakatan itu merupakan potensi bagi pengembangan kreativitas.

D.      Teori-Teori Kreativitas
1)      Teori  Psikoanalisa
Pribadi kreatif dipandang sebagai seseorang yang pernah mengalami traumatis, yang dihadapi dengan memunculkan gagasan-gagasan yang didasari dan tidak didasari bercampur menjadi pemecahan inovatif dari trauma.
a)      Freud
Proses kreatif timbul dari mekanisme pertahanan. Freud percaya bahwa meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif, mekanisme sublimasi justru merupakan penyebab utama timbulnya karya-karya.
b)      Ernest Krist
Mekanisme pertahanan regresi sering memunculkan tindakan kreatif. Orang yang kreatif ini adalah mereka yang paling mampu “memanggil” bahan dari alam pikiran tidak sadar. Seseorang yang kreatif tidak mengalami hambatan untuk bisa “seperti anak” dalam pemikirannya. Mereka dapat mempertahankan “sikap bermain” mengenai masalah-masalah serius dalam kehidupan.
c)       Carl Jung
Bahwa alam tidak sadar yang dalam hal ini ketidaksadaran kolektif memainkan peranan yang amat penting dalam permunculan kreativitas tingkat tinggi.

2)      Teori Humanistik
Teori Humanistik melihat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi.
a)      Abraham Maslow
Bahwa manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan dibagi menjadi kebutuhan fisik/biologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan cinta dan rasa dimiliki, kebutuhan penghargaan dan harga diri, kebutuhan perwujudan diri, dan kebutuhan estetika. Kebutuhan tersebut memiliki urutan hierarki. Empat kebutuhan utama disebut kebutuhan “deficiency” dan dua kebutuhan berikutnya adalah kebutuhan ”being” .
b)      Carl Rogers
Dalam teori ini menyatakan 3 kondisi internal pribadi yang kreatif, yaitu :
·         Keretbukaan terhadap pengalaman
·         Kemampuan untuk menilai situasi sesuai patokan pribadi seseorang
·         Kemampuan untuk bereksperimen, untuk “bermain” dengan konsep-konsep.
Apabila seseorang memiliki ketiga cirri ini maka kesehatan psikologisnya sangat baik, orang tersebut dapat berfungsi sepenuhnya dan menghasilkan karya-karya kreatif dan hidup secara kreatif apabila kondisi lingkungannya mendukung.

3)      Teori Csikszentmihalyi
3.1   Ciri pertama memudahkan tumbuhnya kreativitas adalah predisposisi genetis
3.2   Minat pada usia dini pada ranah tertentu
3.3   Akses terhadap suatu bidang
3.4   Access to a field
3.5   Dapat beradaptasi dengan baik

Daftar Pustaka
Basuki, Heru. (2005). Kreativitas, Keberbakatan, Intelektual dan Faktor-Faktor Pendukung Dalaam Pengembangannya. Jakarta: Universitas Gunadarma
Campbell, David. (1986). Mengembangkan Kreativitas. Yogyakarta: Kansius
Pustaka Familia, Tim. (2006). Warna-warni Kecerdasan Anak dan Pengembangannya. Yogyakarta: Kansius
Semiawan, Cony. (1997). Perspektif Pendidikan Anak Berbakat. Jakarta: Grasindo

Wahyudin. (2007). Anak Kreatif. Jakarta: Gema Insani Press

Bank Sampah di Indonesia: Menabung, Mengubah Perilaku
Bicara soal sampah: kecenderungannya adalah kita tidak terlalu memikirkan apakah sampah yang kita hasilkan itu organik atau non-organik. Kita mungkin juga tidak terlalu peduli ke mana larinya sampah itu. Sementara kenyataannya: di Indonesia, sampah rumah tangga kita akan bercampur dengan sampah jutaan rumahtangga lainnya, hingga terbentuklah gunung-gunung sampah yang tak semestinya di tempat pembuangan akhir (TPA) berbagai kota.
Bicara soal pengelolaan sampah yang ideal, para pakar akan mengatakan bahwa tanggungjawabnya bukanlah milik pemerintah kota semata, tetapi milik bersama.
Jumlah penduduk terus meningkat, begitu pula pola konsumsi. Volume sampah pun kian meluap di berbagai TPA.
Lantas apa yang bisa dilakukan? Saat ini di Indonesia, Bank Dunia tengah mengkaji berbagai cara untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah. Salah satu pilihannya adalah memperbanyak jumlah bank sampah.  Belum lama ini saya bersama tim proyek pengelolaan sampah Bank Dunia  mengunjungi bank sampah di beberapa kota untuk belajar lebih banyak tentang cara kerjanya.
Apa yang dimaksud dengan ‘bank sampah’? Bank sampah sudah ada di berbagai kelurahan di seluruh tanah air, antara lain di Sulawesi Utara, Kalimantan Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sinilah sampah rumahtangga dipilah ke dua kelompok: sampah organik dan sampah non-organik. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah non-organik kemudian dipilah lebih lanjut ke tiga sub-kelompok: plastik, kertas, serta botol dan logam.
Sebagian besar rumahtangga ramah lingkungan di Indonesia menyimpan tiga tong sampah atau kantong sampah besar. Begitu ketiga tong sampah tersebut sudah penuh, isinya lalu bisa “ditabung” di sebuah bank sampah. Seperti halnya sebuah bank komersil, kita bisa membuka rekening di sebuah bank sampah. Secara berkala, kita bisa mengisi tabungan kita dengan sampah non-organik yang ditimbang dan diberi nilai moneter, sesuai harga yang sudah ditentukan oleh para pengepul. Nilai moneter ini ditabung, dan sama halnya sebuah bank komersil, isi tabungan tersebut bisa ditarik sewaktu-waktu. Di manapun tempatnya, prinsip-prinsip dasar bank sampah tetap sama: untuk menyimpan sampah, untuk menabung, untuk menghasilkan uang, untuk mengubah perilaku dan menjaga kebersihan.
Prinsip-prinsip kebersihan dan pengelolaan sampah ramah lingkungan diterapkan sejak dini di sebuah sekolah menengah atas di Manado, Sulawesi Utara. Para siswa SMA 7 mulai menerapkan pola hidup ramah lingkungan di lingkungan sekolahnya sejak tahun 2007, dengan membuat kompos dari sampah organik dari kantinnya. Beberapa tahun kemudian, sebuah bank sampah resmi didirikan di SMA 7 dan para siswa mulai menyadari untungnya menyimpan botol dan bungkus makanan plastik. Hasil tabungan mereka di bank sampah diakui sejumlah siswa cukup membantu untuk membayar kebutuhan-kebutuhan sekolah. Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia pun memberi penghargaan khusus bagi SMA 7 karena dianggap sangat berprestasi dalam menerapkan jiwa ramah lingkungan di kalangan siswanya.
Di kota Balikpapan, seorang mantan anggota DPRD mendirikan sebuah  bank sampah yang lebih konvensional. “’Sampah adalah teman kita. Sampah adalah uang. Itu yang selalu saya tekankan pada warga,” ujar Sobirin, pendiri bank sampah di kelurahan Gunung Samarinda. Sejak pertama berdiri tahun 2010 lalu, sampah non-organik yang terkumpul di bank sampah Sobirin bisa mencapai 2-3 ton per bulan.
“Di bank sampah ini, tiap rumahtangga rata-rata menabung sekitar 50 ribu rupiah per bulan. Lama kelamaan, jumlah yang terkumpul lumayan membantu buat membaya keperluan rumah tangga dan sekolah,” tambah Sobirin.
Tentunya bank sampah Sobirin takkan sukses tanpa partisipasi sejumlah relawan. Selain ketiga relawan yang menangani operasional harian bank sampah, Sobirin juga didukung relawan di 29 titik pengumpulan sampah. Salah satunya, Ibu Mimin, bahkan membuat teroboson sendiri: sampah non-organik yang dikumpulkan di rumahnya bisa ditukar dengan sembako yang tesedia di warung miliknya.
“Tiap minggu saya selalu mengingatkan ibu-ibu lain saat pertemuan PKK  bahwa merea bisa menukar sampah menjadi sembako, sesuai dengan berat sampah non-organik yang mereka setor,” kata Ibu Mimin.
Sementara di Sukunan – sebuah desa kecil di kabupaten Sleman, DIY – Iswanto, seorang pakar pengelolaan sampah memperkenalkan konsep ‘bank sampah shodaqoh’, dimana warga bersedekah kepada komunitasnya dengan penghasilan yang diperoleh dari penjualan sampah non-organik. Sekitar 230 dari 300 rumah tangga di Desa Sukunan ikut terlibat dalam program shodaqoh sampah ini, dan mengumpulkan sekitar 2 ton sampah non-organik per bulan. Hasil penjualan sampah yang terkumpul kemudian digunakan untuk keperluan komunitas – seperti taman bermain contohnya – yang ditentukan langsung oleh warga setempat.
Telusuri Desa Sukunan dan kita takkan melihat sampah berserakan di jalan atau mencium aroma sampah terbakar. Menurut Iswanto, ”Warga disini sudah terlalu malu untuk bakar sampah di pekarangan rumah – tetangga-tetangga mereka sendiri yang bakal menegur.”
Bank sampah juga bisa ditemukan di berbagai negara lain selain Indonesia. Kami di Indonesia sangat tertarik untuk belajar tentang pengalaman mengelola bank sampah di negara-negara lain.
Tanggapan:
Sudah tidak aneh lagi jika sampah selalu menjadi suatu hal yang sangat mengganggu baik itu di kota besar maupun di daerah terpencil. Tidak hanya baunya yang kurang sedap, dampak bagi pencemaran lingkungan pun sangat tinggi. Namun, dengan adanya program Bank Sampah ini dapat menjadi terobosan besar dalam pengelolaan sampah  di Indonesia. Efektifitasnya dalam pengelolaan sampah sangat tinggi karena program ini dapat dilaksanan oleh seluruh lapisan masyrakat mulai dari anak SD sampai ibu rumah tangga. Cara pelaksanaanya pun mudah, masyarakat hanya perlu menyimpan dan mengumpulkan sampah organik dan nonorganik sesuai tempatnya, lalu kemudian “ditabung” ke Bank Sampah yang ada di daerahnya. Hal ini tentu akan melatih anak-anak untuk lebih peduli terhadap lingkungan, membiasakan mereka membuang sampah pada tempatnya sambil belajar mengetahui mana sampah organik dan nonorganik . Sedangkan bagi orang tua hal ini dapat menjadi wadah untuk melatih krativitas karena mereka sendiri lah yang mengolah / mendaur ulang sampah yang ada menjadi sesuatu yang mempunyai nilai. Melalui program ini, paradigma masyarakat terhadap sampah yang tidak berguna dan hanya dibuang begitu saja diubah menjadi sesuatu hal yang mempunyai nilai dan berharga. Sampah yang dikumpulkan (Organik atau Nonorganik) di daur ulang menjadi barang yang bernilai ekonomis. Lebih dari itu, program Bank Sampah ini juga sedikit banyak tentu akan membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar karena masyarakat tidak hanya berperan sebgai nasabah, tetapi juga produsen bagi sampah yang diolahnya. Selain itu prinspip-prinsip dasarnya sama dengan bank komersil pada umumnya, isi tabungan yang sudah diuangkan dapat ditarik sewaktu-waktu. Sungguh kreativitas positif dari Program Bank Sampah ini patut dicontoh oleh semua warga di Indonesia atau bahkan dijadikan program tersendiri oleh Pemerintah agar persoalan sampah yang sangat pelik di Negara ini dapat teratasi.
Kesimpulan:
Program Bank sampah jelas terlihat sangat efektif dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Selain pelaksanaannya yang mudah program ini pun dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarkat. Banyak sekali keuntungan dari adanya program ini diantaranya adalah membiasakan masyarakat untk turut menjaga lingkungan, dapat mejadi wadah dalam melatih kreativitas mengolah barang, serta dapat menigkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu program Bank Sampah ini patut untuk dicontih oleh daerah-daerah lain di Indonesia.

2. Jelaskan menurut anda dan kelompok anda “Anak laki-laki menunjukan kreativitas yang lebih besar daripada anak perempuan, terutama setelah berlalunya masa kanak-kanak”
Benarkah demikian? Mengapa?

Hurlock (1993), mengatakan ada enam faktor yang menyebabkan munculnya variasi kreativitas yang dimiliki individu, yaitu:
1. Jenis kelamin
Anak laki-laki menunjukkan kreativitas yang lebih besar dari anak perempuan, terutama setelah berlalunya masa kanak-kanak. Untuk sebagian besar hal ini disebabkan oleh perbedaan perlakuan terhadap anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki diberi kesempatan untuk mandiri, didesak oleh teman sebaya untuk lebih mengambil resiko dan didorong oleh para orangtua dan guru untuk lebih menunjukkan inisiatif dan orisinalitas.
2. Status sosioekonomi
Anak dari kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi cenderung lebih kreatif dari anak kelompok yang lebih rendah. Lingkungan anak kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi memberi lebih banyak kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang diperlukan bagi kreativitas.
3. Urutan kelahiran
Anak dari berbgai urutan kelahiran menunjukkan tingkat kreativitas yang berbeda. Perbedaan ini lebih menekankan pada lingkungan daripada bawaan. Anak yang lahir ditengah, belakang dan anak tunggal mungkin memiliki kreativitas yang tinggi dari pada anak pertama. Umumnya anak yang lahir pertama lebih ditekan untuk menyesuaikan diri dengan harapan orangtua, tekanan ini lebih mendorong anak untuk menjadi anak yang penurut daripada pencipta.
 4. Ukuran keluarga
Anak dari keluarga kecil bilamana kondisi lain sama cenderung lebih kreatif daripada anak dari keluarga besar. Dalam keluarga besar cara mendidik anak yang otoriter dan kondisi sosiekonomi kurang menguntungkan mungkin lebih mempengaruhi dan menghalangi perkembangan kreativitas.
5. Lingkungan
Anak dari lingkungan kota cenderung lebih kreatif dari anak lingkungan pedesaan.
6. Intelegensi
Setiap anak yang lebih pandai menunjukkan kreativitas yang lebih besar daripada anak yang kurang pandai. Mereka mempunyai lebih banyak gagasan baru untuk menangani suasana sosial dan mampu merumuskan lebih banyak penyelesaian bagi konflik tersebut.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kreativitas menurut Rogers (dalam Munandar, 1999) adalah:
a. Faktor internal individu
Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam individu yang dapat mempengaruhi kreativitas, diantaranya :
1. Keterbukaan terhadap pengalaman dan rangsangan dari luar atau dalam individu. Keterbukaan terhadap pengalaman adalah kemampuan menerima segala sumber informasi dari pengalaman hidupnya sendiri dengan menerima apa adanya, tanpa ada usaha defense, tanpa kekakuan terhadap pengalaman-pengalaman tersebut. Dengan demikian individu kreatif adalah individu yang mampu menerima perbedaan
2. Evaluasi internal, yaitu kemampuan individu dalam menilai produk yang dihasilkan ciptaan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan karena kritik dan pujian dari orang lain. Walaupun demikian individu tidak tertutup dari kemungkinan masukan dan kritikan dari
orang lain.
3. Kemampuan untuk bermaian dan mengadakan eksplorasi terhadap unsur-unsur, bentuk-bentuk, konsep atau membentuk kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya.
b. Faktor eksternal (Lingkungan)
Faktor eksternal (lingkungan) yang dapat mempengaruhi kreativitas individu adalah lingkungan kebudayaan yang mengandung keamanan dan kebebasan psikologis. Peran kondisi lingkungan mencakup lingkungan dalam arti kata luas yaitu masyarakat dan kebudayaan. Kebudayaan dapat mengembangkan kreativitas jika kebudayaan itu memberi kesempatan adil bagi pengembangan kreativitas potensial yang dimiliki anggota masyarakat. Adanya kebudayaan creativogenic, yaitu kebudayaan yang memupuk dan mengembangkan kreativitas dalam masyarakat, antara lain :
(1) tersedianya sarana kebudayaan, misal ada peralatan, bahan dan media, (2) adanya keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan bagi semua lapisan masyarakat, (3) menekankan pada becoming dan tidak hanya being, artinya tidak menekankan pada kepentingan untuk masa sekarang melainkan berorientasi pada masa mendatang, (4) memberi kebebasan terhadap semua warga negara tanpa diskriminasi, terutama jenis kelamin, (5) adanya kebebasan setelah pengalamn tekanan dan tindakan keras, artinya setelah kemerdekaan diperoleh dan kebebasan dapat dinikmati, (6) keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan yang berbeda, (7) adanya toleransi terhadap pandangan yang berbeda, (8)adanya interaksi antara individu yang berhasil, dan (9) adanya insentif dan penghargaan bagi hasil karya kreatif. Sedangkan lingkungan dalam arti sempit yaitu keluarga dan lembaga pendidikan. Di dalam lingkungan keluarga orang tua adalah pemegang otoritas, sehingga peranannya sangat menentukan pembentukan krativitas anak. Lingkungan pendidikan cukup besar pengaruhnya terhadap kemampuan berpikir anak didik untuk menghasilkan produk kreativitas, yaitu berasal dari pendidik.
jadi menurut kami anak laki-laki lebih menunjukan kreatifitasnya karena beberapa faktor, yang pertama yaitu faktor internal. Anak laki-laki lebih merasakan adanya tanggung jawab serta keinginan mandiri dalam dirinya, maka dari itu timbul keterbukaan dari dirinya sehingga memicu berkembangnya kreatifitas dalam dirinya. Faktor yang kedua yaitu faktor eksternal. Faktor eksternal ini berasal dari lingkungan dari anak anak laki-laki tersebut. Adanya desakan dari teman sebaya serta adanya anggapan bahwa anak laki laki haruslah memiliki sifat inisiatif maka hal itu memicu tumbuhnya kreatifitas anak laki laki lebih dibanding dengan anak perempuan.

Daftar Pustaka
Hurlock, E. (1993). Psikologi Perkembangan (Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan). Jakarta : Erlangga

Munandar, Utami. (1999). Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah.
Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar